Kasus kebakaran yang terjadi di Kabupaten Aceh Tengah dinilai tinggi, mencapai seratus lebih pada 2014 dan belasan kasus pada 2015 ini sampai bulan Maret.
Lahan yang terbakar, bukan saja pemukiman penduduk, tetapi juga lahan perkebunan, hutan dan lainnya, terutama pada musim kebakaran, baik disengaja maupun tidak.
Dilaporkan, pada 2014, sebanyak 137 kasus kebakaran terjadi dan sampai Maret 2015, sudah terjadi lebih dari 11 kali. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Jauhari ST kepada Serambi, Selasa (7/4) di posko pemadam kebakaran (damkar) Takengon menjelaskan kebakaran yang terjadi pemukiman sebanyak 47 kasus pada 2014.
Sedangkan, sekitar 90 kasus kebakaran menimpa lahan. “Petugas pemadam bukan hanya menangani kebakaran pemukiman saja, tetapi jika terjadi kebakaran lahan, harus juga turun tangan,” kata Jauhari. Menurutnya, beberapa kasus kebakaran lahan yang terjadi selama ini, lokasinya tidak jauh dari pemukiman warga.
Dia menyatakan jika tidak segera ditangani, maka kobaran api yang sebelumnya membakar lahan, juga bisa merembet ke pemukiman warga. “Kebakaran lahan ini, biasa terjadi setiap memasuki musim kemarau dan tidak jauh dari pemukiman, sehingga harus ditangani segera,” tambahnya.
Jauhari menilai tingginya kasus kebakaran telah menjadi kawasan ini sebagai daeran rawan kebakaran, baik di pemukiman maupun lahan. “Daerah kita memang rawan bencana, karena bila musim kemarau, sering terjadi kebakaran, di musim hujan kerap longsor dan banjir, selain puting-beliung,” paparnya.
Dikatakan, BPBD Aceh tengah memiliki seratus lebih personel pemadam yang ditempat di tiga posko, dengan induk di pusat kota Takengon dan dua lainnya, di Kecamatan Jagong Jeget dan Silih Nara. “Mobil pemadam kebakaran sebanyak delapan unit, satu di Jagong Jeget, satu lain di Silih Nara dan lainnya di posko induk,” urainya.

No comments:
Post a Comment